IKLAN

10 11 2009

<a href=”http://kumpulblogger.com/smart_index.php?skbid=106757″ target=”_new”><img src=”http://kumpulblogger.com/banner_smart.jpg” title=”Produk SMART”></a><br>Produk SMART Telecom





She’s All The Beginning, And The Ending is my mind

3 09 2009

Kejutan Dari Nenek

Unik memang tapi aku suka, namun bukan pula merasa tertantang seperti ketertarikanku pada lawan jenis seperti sebelumnya. Yang selama ini sering terjadi pada ku, hanya sebatas memenuhi tantangan tersebut demi kepuasan dan membuktikan bahwa aku mampu melampaui ambisiku. Terus menerus tak berkesudahan dan tak pula ketemu klimaks yang sesungguhnya dalam kisah itu. Karena ternyata setelah terpenuhi ambisi itu aku pun tak mengalami kepuasan. Semuanya hambar setidaknya itu bagi diriku sendiri.

Saat ini aku merasa di posisi yang serba sulit untuk ku hadapi atau ku abaikan saja. Bagaimana bisa ku hadapi jika aku pun masih bingung bagaimana cara menghadapinya. Dan bagaimana pula bisa kuhindari saat orang-orang tercinta yang aku hadapi, keluarga dari Mama terutama nenek (yang dalam bahasa daerahku ku sebut Nyai), sedang aku tak punya keluarga lain (karena dari papa aku tak banyak saudara beliau anak tunggal). “Hemf……” (aku melenguh dengan nafas panjang), sungguh tak ku sanggka bahwa ucapanku akhirnya jadi bumerang yang terus mendesakku, pertanyaan yang keluar hanya bisa kujawab “iya dan nanti”.

Asal muasalnya karena aku dalam kondisi terdesak, ceritanya waktu itu Nenekku di rawat di sebuah rumah sakit dan dalam keadaan kesaehatannya yang telah menghawatirkan semua keluarga. Aku yang bekerja jauh di luar kota di panggil untuk pulang. Ketika sampai di kamar tempat nenet di rawat, aku langsung mendekati, kucium keningnya sembari aku duduk di sampingnya. Tak lama matanya terbuka, menoleh ke samping kirinya tempak dudukku, lalu….. “Bas” katanya memanggil nama kecilku.

Waktu itu seluruh keluarga yang ada di ruangan langsung mendekat, terkejut mereka karena nenek langsung mengenaliku. Dari cerita mereka sesudahnya ternyata sudah dua hari sebelum kedatanganku Nenek tak pernah ingat siapapun. “Ajaib” ketika aku datang dia langsung menyebut namaku. “ kau tak bawa cucuku Bas” nenek lanjutkan perkataannya sekaligus bertanya padaku. Keluarga yang lain tampak sumringah melihat tanda-tanda nenek bakal membaik. Sementara aku…. “Dag.. dig… dug… derrrr…….” (jantungku berdegup kencang dan uhhh…… rutukku dalam hati). Bukannya aku tak senag melihat pertanda kondisi nenek akan membaik, tapi…….. (ahhhhh….. ocehanku berlanjut dalam hati).

Aku tahu betul kata “cucuku” yang di ucapkan Nenek padaku adalah calon istriku (yang sampai saat ini aku belum punya). Saat aku masih terdiam, dengan tiba-tiba “eh… di tanya Nenek tuh” tante (adik iparnya mama) menepuk pundakku. Dan ternyata dia nyambum juga dengan yang dimaksudkan oleh Nenek. Dalam keadaan bingung, tercekat dan campur aduk perasaan bergolak di dada karena tak kusangka akan terjebak dalam situasi ini. “Huff…….” cuma itu yang bisa terucap. Tapi ketika ku tatap wajah Nenek, kulihat dia masih berharap aku berikan jawaban padanya. Aku tak tega mengatakan padanya bahwa aku belum punya, sementara harapannya padaku untuk segera menikah telah terlontar setidaknya sejak empat tahun yang lalu. Dan selalu berulang ketika saudara-saudara sepupu yang umurnya di bawahku mempersunting seorang gadis. Ingin rasanya aku berteria sekuat-kuatnya saat itu untuk menumpahkan luapan gemuruh dalam dada. Andai aku bisa pasti sudah kutinggalkan pergi, “mingggaaattttttt……”.

Tapi demi mengingat tatapan Nenek padaku saat itu, yang aku bisa hanya diam terpaku. Entah berapa lama aku terdiam, ketika seluruh pasang mata yang ada di kamar itu menatap ke arahku seolah penuh harap. Tiba-tiba sesuatu melesat dalam pikiranku, sesuatu yang ternyata menjadi penyesalan bagiku di kemudian harinya. Tapi waktu itu aku tak lagi punya pilihan (setidaknya begitu menurut pembelaan diriku, setelah aku menyesalinya).

“Bas buru-buru datang kesini nek, jadi belum sempat jemput dia” ucapku. Reaksi luar biasa yang ku lihat pada Nenek, matanya berbinar dan tiba-tiba seolah ada kekuatan dia memintaku untuk membantunya duduk. Setelah itu bertubi-tubi pertanyaan mampir ketelingaku, bukan saja dari nenek tapi juga dari tante dan adik-adik sepupuku yang mau tak mau harus ku jawab satu persatu. Begitu antusiasnya mereka, seolah-olah aku tengah di wawancari insan pers yang di kejar Dead line dan sepertinya kalimat pertamaku itu lanyak untuk jadi headline. Dari situ mulailah lahir kebohongan demi kebohongan. Dari wawancara itu terungkap bahwa target adalah seorang gadis yang selisih umurnya hanya dua tahun dariku. L namanya, seorang guru di kecamatan LB di Kabupaten O. Anak kedua sama sepertiku, papanya sudah Almarhum tapi dia masih punya mama. Dan seterusnya dan seterusnya. Banyak, banyak sekali penyesalan yang terjadi padaku sesudah itu. Kenapa aku terjebat di situ dan kenapa tak bisa aku hindari.

Padahal saat itu aku tengah suka pada L yang lain, yang benar-benar telah membuat hatiku tertawan. Namun lidahku kelu tiap kali berhadapan dengannya. Ketakutan luar biasa terjadi padaku saat keinginanku memuncak untuk mengatakan sesuatu padanya. Mengucapkan bahwa aku cinta padanya dan ku mau dia jadi istriku. Akhirnya yang keluar dari mulutku hanyalah guyonan-guyonan padanya tanpa pernah terlihat bahwa sebenarnya hatiku telah tertancap padanya (hehehehe, pisau kali nancep). “L, maafkan aku” (pada kedua L aku berucap dalam hati). Sementara kita kembali dulu pada L yang ku ceritakan pada nenek, tentang L yang hatiku telah tertambat padanya (lagi-lagi, memang kapal) nanti juga akan aku ceritakan.

Skenario yang gagal

L yang ku ceritakan pada Nenek ku kenal pertama kali dari seorang teman. Sungguh awalnya tak pernah terpikirkan oleh ku untuk menyebutkan namanya di depan Nenek apalagi melibatkannya dalam skenario yang terencana dengan sendirinya dalam benakku. Mudah-mudahan kau sempat membaca coretanku ini, dan kau tahu betapa aku menyesali telah melibatkan mu. Entah dengan apa bisa bisa aku memohon maaf padamu, yang pasti aku tak punya keberanian untuk tahu apakah kau bisa maafkan aku L.

Melihat kondisi nenek yang semakin mambaik, maka ku putuskan untuk kembali kelokasi kerja. Bisa-bisa aku di pecat karena terlalu lama izin, apalagi pemilik perusahaan tempatku bekerja adalah orang Jepang. Dan benar saja, dua hari setelah aku kembali ke Lokasi aku mendapat telpon dari Mama. Beliau mengabarkan bahwa nenek sudah di perbolehkan pulang ke rumah. “Alhamdulillah…” ucapku di telpon, tapi dalam hati aku berdoa “Tuhan ampunkan aku atas segala yang telah ku perbuat. Ku mohon di beri jalan menyelesaikan permasalahan ini”. Tapi akhirnya doa itu aku ingkari pula, dan lagi-lagi “aku tak punya pilihan” ucapku pada diri ini untuk memberikannya pembelaan. Sekedar melegakan hati ini walau hanya sementara.

Tetap pada rencana semula dan skenario itu mulai ku jalankan. Kebetulan wilayah kerjaku meliputi daerah dimana L yang keceritakan pada Nenek bekerja dan bermukim tak jauh dari sana. Semakin lancar pertemuanku dengannya dan skenarioku melesat dengan mulus. Apalagi ketika pertama kali kenal aku sudah yakin dia bakal suka denganku (hehehehe kepedeaan nih). Tanpa begitu banyak halangan aku sukses menyatakan padanya bahwa “Ku cinta padanya” (walaupun saat mengucapkannya aku membayangkan L yang lain). Hanya butuh waktu kurang dari dua minggu L telah menerimaku sebagai “calon suaminya”. Saat ini terlihat bahwa pada waktu itu aku bukan hanya kejam tapi juga begitu bodoh. Berjalanlah semuanya itu tanpa sekalipun L menyadari skenario kotor di otakku.

Walau belum ku temukan jalannya, tapi sepanjang perjalananku bersama L yang kucerikatan pada nenek kegagalan yang kuaharapkan. Dan entah bagaimana caranya, karena waktu itu aku hanya ikuti perintah-perintah nafsuku. Dari mulutku sendiri meminta padanya agar bersedia menjadi istriku tapi dalam hati aku inginkan agar semuanya berakhir. Karena memang aku tak pernah sungguh-sungguh memintanya menjadi istriku. Hatiku pada L yang lain, L yang aku takutkan melontarkan penolakan padaku. Pada sisi ini terlihat begitu bodohnya aku, dari penglihatan lainnya nampak kekejamanku tengan mencapkan kuku pada L yang kuceritakan pada nenek. Bathinku selalu bergolak, tapi tetap tak mampu ak mengalihkan pandangan hatiku. Bahkan bukannya tak pernah terpikirkan olehku untuk benar-benar menjadikan L yang kuceritakan pada nenek sebagai Istriku. Tapi aku tak pula bisa bohongi hati ini bahwa separuh jiwaku adalah milik L yang lain, semenatara separuh jiwa yang lain adalah kebodohan dan kekejaman.

Satu bulan lebih berjalan semua kebohongan ini, aku masih belum juga punya cara untuk mengakhiri semua ini. Sampai akhirnya aku di telpon mama, memintaku untuk pulang dua hari lagi “ada keluarga kita yang hendak menikahkan anaknya, Nenek titip pesan padamu agar kau harus bawa cucunya” katanya. “Iya Ma” sahutku, tanpa mampu ucapkan tidak. Aku pun tahu bahwa ini pasti terjadi, tapi tak bisa ku bayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Kebetulan masih di kantor, jadi sekalian aku atur day off tuk hadiri acara tersebut.

Selanjutnya, di rumah L yang kuceritakan pada nenek aku pamitkan dia pada mamanya. Siap atau tidak siap itu ku lakukan begitu saja, ternyata skenarioku prematur. Karena buktinya aku tak juga tahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Ku bawa dia menemui keluargaku tanpa skenario apapun, dalam bingung kujalankan sesuatu yang tak jelas. Tak ada apaun terlintas di kepalaku untuk menjadi sebuh ide tentang bagaimana harus kulakukan. Semuanya mengalir begitu saja, dalam benakku tak sekalipun terlintas untuk membatalkan skenario yang tak jelas ini. Bukan saja karena aku sama sekali tak punya skenario lain, lebih dari itu bahkan aku tak mampu membayangkan bagaimana jika skenario yang tak jelas ini kehuentikan di tengah jalan. “Ah… aku memang tak punya kemampuan apa-apa” sekali lagi, dalam keadaan tejepit aku berdoa “Tuhan, aku tak tahu langkahku selanjutnya. Beri hambamu petujuk…”. “Tidak, tidak dan tidak” bathinku membantahnya, engkau telah lupakan TuhanMu saat kau laukan ini ucapnya pada diri ini. Dan memang selanjutnya aku hanya memperturutkan nafsuku, untuk menutupi ketakutan demi ketakutan yang belum tentu terjadi. Karena tetap kujalankan skenario yang tak jelas ini.

Masih jelas dalam ingatanku, bahkan kadang-kadang melintas begitu saja dalam penghilatanku kejadian itu. Hari jum’at pukul sepuluh pagi aku dan L sampai kerumah nenek. Kebetulan rumah keluarga yang akan menikahkan anaknya tak jauh dari situ, jadilah rumah Nenek sebagai tempat berkumpul tempat segenap keluarga yang datang dari jauh. Walaupun rumah nenek kecil, tapi kami begitu senang untuk saling berbagi cerita setelah beberapa waktu tak saling bertemu karena kesibukan masing-masing. Sehingga sempit nya rumah itu bisa terlupakan (untuk beberapa saat tentunya, karena setelah itu pegal-pegal pasti menghampiri karena tak cukup istirahat yang baik). Setelah ku kenalkan kepada Nenek, mama dan yang lainnya ku tinggalkan dia di rumah Nenek.

Karena itu hari jum’at akupun berangkat ke masjid untuk tunaikan Shalat jum’at. Karena memang kebiasaanku selesai sholat aku tak langsung pulang. Masih sempat aku ngobrol dengan beberapa kawan yang lama tak aku jumpai. Ketika pukul dua siang aku baru tersadar, buru-buru aku pulang ke rumah nenek. Entahlah, sepanjang perjalanan kerumah Nenek aku rasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Dan benar saja, sesampainya aku di rumah nenek semakin kentara rasa itu. “Ah….” aku berusaha untuk tak menghiraukannya dan melangkah masuk.

Masih aneh terasa dalam benakku, L hampiri aku “mama telpon, aku di suruh pulang” ucapnya. Aku jadi bingung dan semakin merasa aneh, tapi aku berusaha mencegahnya “L, ni baru Jum’at acaranya Minggu. Kalau tak betah di sini, nanti aku antarkan ke hotel biar kau tinggal di sana. Tapi L, kau harus tetap di sini sampai acaranya selesai”.

“Tapi tadi mama telpon, katanya aku harus pulang hari ini juga” ucapnya padaku sambil tertunduk. Terus terang aku tak mengerti apa maksud semuanya ini, walaupun setidaknya telah menjelaskan rasa aneh yang ku alami sejak tadi. Kulihat semakin ku tahan dia semakin kuat ingin pulang, entah memang tak ingin atau tak mampu mencegahnya. Sebab kenyataannya L tetap pulang tanpa bisa ku cegah. Saat ku antarkan pada keluargaku untuk berpamitan, aku pun bingung karena tak satupun yang mencegahnya (walaupun hanya sekedar berbasa basi).

Hanya tiga puluh menit dari rumah nenek ke terminal luar kota, tempat aku mengantarkan L karena memang rumahnya di luar kota P tempat tinggalku. Tapi perjalan itu terasa begitu panjang, ku bonceng dia dengan motorku. Di peluknya aku dengan erat, seakan tak ingin dia lepaskan. Sementara aku terus dalam kebingungan, entah apa yang terjadi. Aku yang biasanya mudah berkata-kata, saat itu kami seolah kehilangan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa manusia. Sampai akhirnya tiba di terminal aku hanya bisa berucap “Hati-hati di jalan ya L, maaf aku tak bisa antarkan kau sampai kerumah, salam untuk mamamu”, itu pun setelah L mengatakan kalimat perpisahan padaku. Sebelum naik ke mobil dia cium tangan ku sambil menangis dan di dekapnya aku yang hanya terdiam demi menyaksikan semua ini dengan penuh kebingungan (yang akhirnya baru ku tahu itu untuk yang terakhir kalinya).

Tiba kembali di rumah nenek aku berusaha bersikap biasa saja, namun tak seperti biasanya aku tak banyak bicara. Sampai akhirnya mama mendekatiku menceritakan padaku, bahwa sampai ku antarkan pulang L tak makan apapun di rumah itu. Sejak pukul sepuluh pagi sampai pukul dua siang, bahkan dia tak sempat minum teh yang dibuatkan oleh adik sepupuku. L yang kenal begitu luwes dalam bergaul hanya bisa berdiam diri di rumah nenek, beberapa adik sepupuku, tante-tanteku, mama dan bahkan Nenek sekalipun sudah mencoba mengakrabkan diri dengannya. Tapi tetap saja dia hanyut dalam dunianya sendiri, seolah dia tenggelam di rumah nenek dan tak seorangpun dari keluargaku yang mampu menolongnya.

Di keluargaku ini masih memakai tata kerama dari suku kami, salah satu suku di propinsi SS ini. Dari situ mereka menilai bahwa yang dilakukan L adalah penghinaan bagi mereka, aku tak mampu merubah hal ini karena terus terang dalam beberapa hal aku pun masih menganutnya. Mungkin bagi orang lain hal tersebut sepele namun tidak bagi mereka bagi keuargaku yang mungkin masih kolot ini. Mereka memaklumi sikap L yang banyak diam sebagai suatu kecanggungan untuk masuk dalam suatu komunitas baru, tapi tidak untuk penolakan L terhadap makanan dan minuman yang mereka sajikan. Dan tervonis sudah, bahwa L tak mau masuk dalam lingkungan keluarga ini. Aku diam saja saat mama menjelaskan situasi yang telah terjadi tadi. Setelahnya aku mencoba bersikap biasa dan kembali tenggelam dalam cerita bersama beberapa sepupu, om dan tanteku. Seolah aku sudah lupa apa yang baru saja aku alami. Setelah kejadian itu aku tak lagi pernah mencoba menghubungi L walaupun berkali-kali dia coba telpon padaku. Aku tak pernah mampu jelaskan tentang apa yang terjadi, karena bagaimanapun inilah buah skenarioku. Skenario yang tak pernah jelas sampai ceritanya benar-benar berakhir.

Terus terang saat itu aku tak sedikitpun merasakan lega, walaupun memang sebenarnya kegagalan hubunganku dan L adalah yang ku harapkan. Aku sangat menyesal telah melakukannya dengan L yang benar-benar mencintai aku walaupun aku tak pernah benar-benar menciatainya. Ku sessali begitu kejamnya aku padanya, begitu sombongnya aku hingga sampai hari ini aku tak mampu katakan maaf padanya. Yang aku bisa hanya mohonkan ampunan pada Tuhan, walaupun aku tahu itu tak mungkin. Tak pernah bisa sampai L yang memaafkan diriku. Aku berduka, bukan karena L tak jadi istriku (karena itu memang yang ku harapkan) tapi lebih karena aku telah benar-benar melukainya dengan cara yang amat hina. Melalui coretan ini aku sampaikan padamu, “L,maafkan aku”.

Tetapi setelah itu aku benar-benar merasa hidup, hidup dalam perjalanan rasaku sendiri tanpa aku harus membuat skenario baru. Tanpa harus terpaksa berdusta pada diriku, terutama pada Nenek, mama dan keluargaku yang lain.

L yang Unik, karakter pertama

L yang ini adalah L yang benar-benar aku cintai dengan segenap jiwaku, setahun lebih ku lalui namun aku hanya berani memperhatikannya dari jauh. Aku tak pernah punya kemampuan lebih untuk berbuat sesuatu. Yang setidaknya bisa membuatnya tahu bahwa aku sayang padanya. Kegagalanku dengan L yang kuceritakan pada Nenek (kalau dapat ku katakan sebagai sebuah kegagalan) berikan aku kekuatan baru. Segera setelahnya aku mengalihkan pandangan, ku letakkan kembali niatku padanya L yang menyentuh jiwaku dengan senyumnya.

Di acara kerabatku yang menikahkan anaknya aku ambil porsi sebagai kameramen. Itu kulakukan bukan karena ikhlas untuk membantu, kulakukan karena aku tak mau begitu banyak pertanyaan mampir padaku. Dan pertanyaan yang paling aku takutkan adalah “Eh… Bas, mana calon istrimu?”, capek aku mendengarnya. Akhirnya pada hari itu aku jadi kameramen dadakan. Lumayan pikirku, kegiatan penghilang jejak (hahahaha…, dalam hati aku tertawa sendiri).

Tak ada yang istimewa dalam acara resepsi pernikahan ini, sama saja seperti resepsi pernikahan lainnya. Ritual-ritual secara berurutan berlangsung seperti biasanya. Tapi……., hampir di penghujung acara mata kameraku menangkap sesosok gadis dengan senyum manis. Dengan pakaian muslimah gadis itu lambaikan tanggannya padaku ketika mata kamera ku zoom tepat di wajahnya. Aku terpana beberapa saat, begitu sadar aku hampir lupa bahwa ini acara resepsi pernikahan. “Ups….” Hampir saja aku menjerit memanggil namanya.

Jarakku begitu jauh dengannya, tapi apa peduliku aku tak mau kehilangan mement ini. Jadi ku sampaikan saja kode dengan menggunakan tangan maksudku adalah “L tunggu aku sampai acaranya selesai” (yah gadis itu L yang padanya ada sebagian jiwaku). Bodohnya saat itu aku sama sekali tak mengingat bahwa aku telah hidup di zaman modern bukan di zaman purba “pake HP kan bisa, ah… ah… ah….”. Tapi sesaat kemudian, masih dari mata kamera yang aku zoom ke wajahnya L anggukkan kepalanya. “Hehehe…” sekali lagi hampir aku berteriak “ALHAMDULILLAH……” sambil berjingkrak kegirangan. Untung saja aku cepat sadarkan diriku, hingga resepsi itu tak jadi bubar karena teriakanku “hehehehe….” Aku terkekeh dalam hati sekali lagi.

L hadir atas undangan salah seorang Om ku yang pengacara, dan L adalah salah satu pengacara yang tergabung dalam Law Office pimpinan Om ku itu. Usai melaksanakan tugas sebagai kameramen segera ku hampiri dia, kusapa dia dengan hangat ku jabat tangannya sambil bertanya apa kabarnya. Lumayan lama bagiku karena selama tiga bulan ini aku tak pernah berjumpa dengannya secara nyata. Hanya dalam hari-hariku itu dia selalu melintas di pikiranku. Belum lama aku bicara dengannya, tiba-tiba “Ah kak Bas, Cuma L nih yang ditanya kabarnya. Sudah lupa ya dengan kita-kita” sela F (temannya L di kantor) menegurku. “Ups……” (aku salah tingkah untk sesaat) lalu “Hehehe, maaf F di sengaja nih” ucapku sambil berjabat tangan dengan mereka satu persatu. S, R dan F teman sekantor L yang dulu juga teman sekantorku.

Hampir aku lupakan cerita ini, bahwa selama tiga tahun usai kuliah di Fakultas Hukum aku sempat bergabung di kantor Om ku. Law Office tempat sekarang L bergabung. Memang awalnya cita-citaku menjadi pengacara, tapi selama tiga tahun bergabung di sana aku menemukan pandangan hidup yang teramat bertolak belakang dengan cita-citaku itu. Hingga akhirnya aku putuskan untuk bergabung di sebuah perusahaan sebagai tenaga Humas, karena aku tak punya penghasilan lain. Juga di perusahaan itu hobiku tersalurkan, aku bisa masuk desa yang satu ke desa lainnya. Bergaul dengan masyarakat desa, sekedar membaktikan diri agar berguna bagi orang banyak (mudah-mudahan).

Walaupun sudah keluar dari Law Office tersebut dan bergabung di sebuah perusahaan yang berlokasi jauh di luar kota ak tetap sempatkan mampir kekantor itu kalau aku sedang pulang ke kota P. Apalagi aku memang menganggap Om ku sebagai panutanku sementara ini. Walaupun banyak perbedaan pandangan diantara kami tapi sikapnya yang berbagi dengan banyak orang memberiku inspirasi. Bahwa anugerah kehidupan yang di berikan Tuhan harus di syukuri dengan menjadikannya bermanfaat, bukan saja untuk diri kita tapi juga kepada orang lain sesuai dengan kemampuan kita. Dan hampir setahun aku keluar dari situ L masuk bergabung.

Sungguh aku alami cinta pandangan pertama pada L, sesuatu terjadi pada diriku saat aku menatap matanya. Begitu teduh, tapi seolah begitu tajam hingga menusuk di hatiku. Hanya saja aku berusaha tegar tiap kali bertemu dengannya, menutupi ketakutan dan gugupku dengan bercanda. Karena itulah ketika pertama kali aku ungkapkan bahwa aku telah lama menyukainya, L tak mampu menutupi kagetnya. Jelas nampak dari air mukanya, mungkin juga bingung harus bersikap bagaimana waktu itu. Tapi setelah itu ternyata ku tahu bahwa di pun telah lama tahu aku suka padanya dan diapun menyimpan rasa padaku. Walaupun belum bisa di katakan dia suka pada ku, karena memang nyatanya sampai hari ini di belum menerimaku sepenuhnya. Dia hanya memberiku kesempatan untuk bersamanya, menjalani sesuatu yang belum bisa dikatakan komitmen. Sampai dia merasa yakin bahwa bersamaku adalah jalan hidupnya. Setidaknya begitu jawaban yang aku terima, ketika ku mintakan kepastian padanya.

Masih di tempat resepsi anak kerabatku, ketika tiba-tiba S,R dan F dengan kompak mempertanyakan “Kapan Bas menyusul”. Itu pertanyaan menakutkan bagiku, setidaknya sampai beberapa saat sebelum acara dimulai. Sampai-sampai aku membiarkan diriku jadi kameramen hanya untuk menghindari pertanyaan semacam itu. Tapi entah kenapa saat itu dari mulut ku spontan keluar “Kalian tanya sama L, kapan dia siap. Klo di jawab sudah siap, besok juga bisa. Mumpung keluargaku masih kumpul nih” walaupun setelahnya aku tertawa. Tapi S,R dan F terkejut juga mendengarnya, apalagi L dia menatapku yang tak sadar tengah mengengam tangannya. Aplagi ketika pulang L tak kuizinkan pulang bersama mereka, aku sendiri yang mengantarkan pulang ke Kost nya.

Sejak itu itulah keberanianku padanya semakin menjadi-jadi, tak lagi aku sembunyikan bahwa aku suka padanya. Rasaku begitu melambung saat pertama kali aku mengajaknya keluar untuk makan malam. Hingga dengan penuh keberanian malam itu juga aku tegaskan padanya bahwa yang ku cari adalah calon istri. Bukan sekedar pacar, karena aku telah capek pacaran (padahal lebih dari itu, aku takut kehilangannya). Sampai aku rela menunda kembali ke lokasi kerja, itu semua buatmu L. kau yang telah mengalihkan duniaku (iklan kali ya, hehehehe). Duniaku begitu berwarna waktu itu, sampai-sampai aku tak lagi perduli bakal kena marah Bos ku karena telat masuk kerja.

Terakhir jalan dengannya waktu dia hendak ke salon untuk perawatan. Karena ku pikir cewek akan membutuhkan waktu yang lama kalau ke salon, maka ku putuskan memanggil teman-temanku untuk main Bilyard di sekitar situ. Lumayan dari pada bengong nungguin L keluar dari salon pikirku. Tapi hanya bertahan dua jam saja mereka pun bubar meninggalkan aku, kembali dalam kesibukannya masing-masing. Sedang aku masih nungguin L yang belum juga keluar dari salon. Sekitar setengah jam kemudian ku coba telpon L,  tapi sial ternyata Hpnya tidak aktif. Berkali-kali ku coba hasilnya tetap sama. Panik : mode on, mulailah ku telpon teman-temannya dan sedikit bercerita bahwa aku sedang mengantar L kesalon tapi sudah dua jam lebih dia belum juga muncul. Mereka tertawa dan bilang padaku bahwa biasanya malah tiga jam lebih. Akhirnya aku menyadari kebodohanku, kenapa tak kutanyakan saja kesalon tersebut. Hasilnya “Ya, L masih di sini” jawab pegawai salon. Sungguh baru kali ini aku nungguin cewek di salon, mana memang di salon tersebut cowok di larang masuk. Sementara aku yang tak berpengalaman ini sedikit panik di buatnya. Sudah bermacam-macam yang terpikirkan olehku, di tambah HP nya L tak bisa di hubungi. Dari akhirnya kupikir dari pada bosan mending aku wara-wiri di mall ini.

Tak sampai tiga jam dari waktu pertama L masuk ke salon dia telpon aku, “kak bas dimana? Aku nungguin di lantai dasar” katanya. “Ok L, aku segera kesana” jawabku padanya. Sampai di lantai dasar, kulihat dia dari jarak kurang dari duapuluh meter. “Subhanallah…” ucapku memuji Tuhan begitu menyaksikan pesona karyaNYA yang kulihat memancar dari wajah L. “Sudah lama selesai main bilyardnya?” L kembali bertanya begitu aku sudah di dekatnya. “Baru saja bubar”  aku berbohong padanya. Setelah itu kami makan malam terus dia ku antarkan pulang.

Sesampainya di rumah aku masih terus tersenyum, luar biasa yang ku rasakan malam itu. Aku merasa begitu sempurna sebagai lelaki, telah berhasil mengantarkan L ke salon dengan sukses. “Eh kak Bas kesamber setan dimana dari tadi senyam-senyum sendirian” ujar M adikku yang rupanya sedari tadi memperhatikan tingkahku yang aneh. “Minggat sana….” Bentakku padanya yg berdiri di depan pintu kamarku. Kemudian ku lemparkan kotak rokokku ke arahnya, akhirnya M ngacir dari sana sambil tertawa terbahak-bahak. Aku kembali pada kelakuanku sebelumnya “cengar-cngir sendirian”. Dan malam itu juga inspirasi bertubi-tubi menghampiri kepalaku. Segera ku tumpahkan syair-syair itu pada laptop ku.

Ini contohnya, yang ku anggap paling berhasil. Karena sebelum ku kirimkan pada L, ku lakukan uji coba pada seorang teman. Dia jadi begitu takut menghadapinya. Hehehe…. sebenarnya bukan takut jatuh cinta padaku, tapi justru sebaliknya dia takut aku jatuh cinta padanya sedang hatinya telah tertambat pada orang lain. Begini bunyinya :

Dan senyummu yang membuat nafasku terhenti

Tercekat dalam tatapanku padamu

Bathinku berbisik….

Tuhanku…..

Begitu indah karyaMU

Nuansa CiptaMu memancar penuh pesona

Semoga pemilik wajah itu bersyukur

Dan menjaga anugerahMU

Sambil aku berdoa PadaMU Tuhanku

Andaikan aku di izinkan bersamanya

Menjaga Anugerah dariMU,

Amin.

Setelah merasa aman dalam arti bahwa aku telah melihat jalan bagiku untuk bersamanya. Walaupun belum pasti bahwa itu jalan kami bersama, setidaknya dia sudah tahu apa yang kurasakan. Bersamaku dia mengajak untuk menjalankan sesuatu, walaupun sesuatu itupun masih belum jelas bagi kami. Tapi setidaknya dia telah beri aku kesempatan untuk bersamanya. “L belum bisa berkata ya atau tidak saat ini, karena kalau pada hari ini L sudah katakan iya itu artinya besok L sudah siap untuk kakak nikahi. Jadi tentunya tak mudah bagi L untuk katakan ya atau tidak pada kak Bas” L berikan penjelasan padaku. “Terima kasih L, Cuma itulah sementara ini jawaban yang kuharapkan darimu, karena ku tahu bukan ini keputusan yang mudah bagimu. Setidaknya kau sudah tahu betapa aku suka padamu dan darimu kudapat jawaban bahwa masih ada kesempatan bagiku untuk menjalani hidup bersamamu” balasku pada L membuatnya sidikit hanyut dalam kata-kata yang ku ucapkan. Tenanglah arwahku, hingga akhirnya akupun kembali ke lokasi kerja.

Namun begitu aku balik ke lokasi kerja sikapnya padaku kurasakan berbalik 180 derajat. Telpon dan sms dariku tak pernah ada yang di jawab, awalnya kupikir dia terlalu sibuk dengan jadwal sidang. Akhirnya aku coba telpon malam hari, tapi masih saja tak ada jawaban. Aku coba telpon temannya untuk mencari informasi, dari situ kudapatkan bahwa L sangat tidak suka dengan kondisi yang seperti di alaminya saat ini. Ternyata sejak tercium oleh teman-teman di kantornya bahwa dia sedang dekat denganku semuanya ramai-ramai menyatakan dukungan. Bukan dukungan teman-teman yang tak ia sukai, tapi sikap mereka yang di rasanya sebagai bentuk ikut campur dalam urusan ini. Di tambah lagi teman-teman sering bercanda pada L tentang diriku dan jadilah dia semakin mengurung diri terhadap diriku. Aku benar-benar kehilangan kontak dengannya, bekerja pun aku sudah tak beres lagi karena permasalah cinta ini. Demi mengalami sendiri kondisi yang seperti ini akhirnya akupun sependapat dengan D’Masiv “Cinta ini membunuhku”.

Belum lagi karena ku hujani dia dengan syair-syair cinta, maklum saja begitu terjadi apa yang selama ini hanya ada dalam banyanganku maka mengalirlah inspirasi melalui celah ronga kepalaku. Hingga dia melahirkan syair demi syair hingga aku sendiri tak mampu membendungnya. Tenyata dia beda dengan gadis lainnya. Dia tak suka begitu diagungkan katanya, padahal dalam tiap-tiap syair yang ku gubah aku selalu mengutamakan Sang khalik agar berikan yang terbaik bagi kami. Tapi entahlah, mungkin dia tak menangkap maksud syairku itu, jadi wajar saja dia jadi begitu ketakutan. Sementara aku yang di terpa kondisi demikian tak pula bisa menenangkan diri, malah aku semakin gencar telpon dan sms L walaupun tak pernah ada hasilnya.

Nafsu kembali menguasai aku, emosiku sudah mencapai ke ubun-ubun. Pada L ku katakan “L, kau salah kalau kau nilai dengan mendiamkan aku seperti ini kau berharap aku akan berdiam diri. Tidak L, malah kau pancing aku untuk berbuat ekstrim saat ini. Aku akan berhenti jika kau bilang padaku untuk tidak lagi menganggumu, akan kehentikan semuanya ini”. Dan secara tiba-tiba pula dunia serasa berputar bagiku, langit seolah hendak runtuh dan menerpa aku. Dari telingaku sendiri aku mendengar L berkata “jangan ganggu aku lagi”. Sungguh aku kehilangan kendali terhadap diriku saat itu. Aku terasa melambung tinggi, kemudian dengan tiba-tiba terhempas tanpa ada pembatas. Aku hancur berkeping-keping, tersisa serpihan, puing-puing tak lagi dapat di katakan utuh. Lama ku tenangkan diriku, aku hanya terdiam seribu bahasa. Mataku berlinang, walaupun tak sampai jatuh air mataku. Di dada terus bergemuruh seolah akan pecah.

Di dalam kamar di mes aku mengamuk sejadi-jadinya, tempat tidurku hancur berantakan. Kaca lemari pecah kuhantam dengan tendangan tanpa bayangan yang ku pelajari dari Jet Lee (hehehehehe……). Ini salah satu sifat burukku, aku harus lampiaskan ketika emosiku memuncak dan hal itu tak bisa aku tahan. Untungnya malam itu sedang sepi, tetangga kamar di mess itu sedang pada pulang libur hari besar nasional. Sedangkan aku terkena jadwal piket dan merdekalah aku di sana untuk mengamuk sejadi-jadinya. Lama aku terdiam duduk di sudut kamar, di bibirku terselip sebatang rokok yang menyala satu persatu kuhisap sampai habis satu bungkus rokok aku baru beranjak dari situ.

Aku langsung telpon S, teman sekantor L. darinya aku dapatkan info bahwa memang setidaknya dalam 2 minggu ini dia begitu sibuk. Kadang-kadang bertegur sapa mereka tak sempat karena kesibukan masing-masing. Tapi dari S juga aku dapatkan bahwa tindakan L yang berkata jangan ganggu aku tersebut hanya emosional belaka. S berharap aku mau bersabar, L begitu rapuh ternyata. Dia bisa menangis untuk hal-hal kecil, yang bagi orang lain bahkan tak punya waktu untuk mengingatnya. Dia mudah sekali tersentuh, hatinya begit lembut. Tapi yang paling penting adalah dia tak mau kehidupan pribadinya dicampuri oleh orang lain. Dia tak nyaman begitu jadi pusat perhatian, selalu berusaha tampil tegar dan tak ingin kelemahan di ketahui orang lain. Berbeda dengan gadis lainnya yang nyaman kalau di perhatikan, L tidak demikian. Tapi itulah dia L, gadis yang padanya sebagian jiwaku ada padanya. S berpesan agar aku mengobah ritme berkomunikasi dengan L, buat dia merasa nyaman dengan tak terlalu nampak bahwa kau sedang memperhatikannya.

N Temanku, karakter Kedua.

Belum genap satu bulan aku kenal dengannya, tapi begitu banyak sudah kami saling berbagi. Aku begitu nyaman untuk sekedar menceritakan permasalahanku dengan L. Dia pun kurasa begitu padaku, di ceritakannya tentang pertemuan rasa dengan salah seorang temanku A. Kisah mereka berduapun tak kalah unik dengan yang ku alami. Jadilah kami berdua saling berbagi tak terbatas tempat dan waktu. Awalnya aku tak percaya dia bungsu di keluarganya. Yah, N begitu dewasa dan yang pasti dia mandiri tak suka ia di bantu kecuali bantuan itu artinya memperhatikannya sebagai seorang perempuan. Dan itu dia harapkan datang dari A, temanku orang yang di harapkan N untuk jadi pelabuhan jiwanya.

Apalagi kalau di lihat sekarang N begitu sempurna, hingga jika saja orang tidak tahu perjalan hidupnya maka pastilah mereka bilang bahwa apa yang N miliki saat ini adalah warisan dari orang tuanya. Padahal sama sekali tidak, yang diwariskan Papanya pada N adalah tekad yang begitu kuat sedang sang Mama mewariskan doa-doa buat putri bungsunya. Dia berpeluh dengan keringatnya sendiri, banting tulang kerja (hehehehe untungnya tulang belulang N masih utuh sampai saat ini).  Hingga jadi seperti saat ini, dia punya 2 butik satu agent travel dan beberapa usaha lainnya, sedangkan urusan cintanya lebih berantakan dari yang aku alami.

Aku merasa miliki ikatan emosional dengan N, yang kami sendiri sebenarnya tak bisa menjabarkannya lebih lanjut. N tampaknya begitu supel dalam pergaulan padahal sebenarnya itu Cuma bagian dari marketing saja demi memperlancar jaringan usahanya. Hingga ketika aku membaca salah satu catatannya di Facebook, aku terpingkal-pingkal dibuatnya. Bukan karena yang di tulisnya adalah komedi, tapi dia telah secara tidak sadar membicarakan sesuatu. Dia berbicara, seolah-olah sifat-sifat A yang di bicarakannya padahal dirinyapun sendiri telah lama demikian itu.

Yah sejak N di tinggal kawin pacarnya terdahulu, dia jadi over protectif terhadap dirinya. Seolah tak mau dia kenal lelaki untuk menjadi sekedar pacar apalagi teman hidupnya.  N jadi cewek yang begitu mandiri dan tak pernah butuh bantuan orang lain khususnya dari mahluk yang bernama laki-laki. Dia merintis sendiri usahanya hingga jadi seperti sekarang ini, dan menurutku dia sudah jauh melampaui apa yang sebenarnya dia inginkan. Di usianya yang sudah memasuki seperempat abad ini sebenarnya dia sudah butuh pasangan hidup, orang yang bisa menemaninya dalam suka maupun duka. Tapi dia jadi begitu angkuh, ya angkuh untuk sekedar mengakui bahwa sebenarnya dia butuh teman hidup. Dan padamu N melalui coretan ini, aku pun mohon maaf. Telah ku tampilkan kau dari sisi yang berbeda menurutmu, walaupun ini juga bukan menurut diriki sendiri tapi dari beberapa pandangan lainnya termasuk A. Yah A, aku pun dapat membayangkan sekarang ketika kau baca ini mendengar nama A kusebut tentunya pipimu sudah merona merah (hehehe…. Piss).

Terlahir dari keluarga yang begitu sederhana tapi siapa sangka dia menjelma seperti saat ini (menjelma memang siluman, hehehehe). Jarang ada cewek single seusia dia sudah mencapai apa yang dia miliki sekarang. Tapi memang di balik itu cinta telah begitu banyak berbicara padanya (lucu kan, padahal sudah jomblo hampir 4 tahun). Dan tak bisa di pungkiri bahwa daya hancur cinta berubah jadi sesuatu yang luar biasa ditangan N. Dia telah melakukan suatu pencapaian dalam hidupnya sekaligus membuktikan bahwa di tangannya daya hancur cinta berubah jadi energi positif ditangannya.

Aku suka padanya, karena dari dia aku begitu banyak mendapatkan pelajaran hidup. Sebenarnya aku sama dengannya dalam hal tak suka di perintah orang lain. Tapi dia telah berhasil melaluinya, N telah berkuasa pada dunianya. Sedangkan aku masih terjebak di sini, mabuk dalam perintah-perintah yang mengacung padaku dan belum ku tahu kapan aku bisa terbebas. Kami sering berbagi masalah cinta, N menceritakan tentang A padaku begitupun aku sebaliknya banyak bercerita tentang L padanya. Hidup memang aneh dan hal ini sekaligus menjelaskan padaku tentang kebenaran dalam perjalanan yang kami lewati bersama. Aku dengan penuh semangat memperjuangkan cintaku pada L, pun N juga berjuang demi A (walaupun ia sendiri tak pernah mau mengakuinya). Cinta memang bisa banyak berbuat dalam kehidupan seorang insan, segala rasa berkumpul padanya menjadi satu dan cinta bisa membuat dunia jadi terbalik. Sedang insan yang mengalaminya tak akan pernah tahu pasti rasa mana yang di pilihkan jalan cinta buatnya.

Aku begitu mengenal N, sampai aku mengerti betul apa-apa yang di tulisnya dalm catatannya di fb. Dan kali ini ketika dia tersadar bahwa dia merasakan hal yang sama sepertiku pada L, begitu vulgar dia dalam tulisannya. Makanya sempat aku katakan padanya, “tak biasanya kau telanjang begini..” (tentu dalam tulisan maksudku, jangankejauhan mikirnya hehehehe). Lantas dia bertanya “Hemmm…. aku salah ya kak”, sambil terkekeh aku menjawabnya “tidak ada yang salah, tapi sekali lagi terlihat bahwa cinta membuatmu luar biasa N”. Sayangnya belum lagi dapat ku jelaskan lebih jauh mengenai N, daya jelajahku harus di hentikan disini untuk N. Sampai kutulis ini belum sekalipun kumintakan izin padanya untuk menjadi karakter dalam tulisan ini. Jadi mohon maaf bila dia belum bisa ke explore lebih jauh dalam tulisan ini.

Kembali dia ceritakan padaku tentang rasa yang dia alami pada A, yang kini telah membuatnya ragu. Setidaknya dari apa yang dia ceritakan bisa kusimpulkan demikian. N berkata bahwa dia telah pasrah, dia bilang telah kembalikan masalahnya pada Allah. Doanya hanya, A jadi pasangan hidupnya atau bukan biarlah Allah yang atur. Dan dalam beberapa hari terakhir ini N menulis bukan untuk A. Semua dilakukannya karena tak biasa menulis dalam diary, jadilah tulisan itu terbit melalui fb. Bahwa dia sudah tak mau berharap dan berusaha apapun lagi buat A. Bahwa dia tak akan menunggu A lagi, fokus dia kembalikan pada dirinya sendiri dulu. Kalau nanti datang siapapun yang bagus menurut Allah.

Kujawab begini padanya “N, kalau memang sudah kau berserah pada Tuhan jangan lagi di tingkahi dengan rasa yang lain. Tentang praduga akan begini atau begitu nantinya. Ketika kita putuskan untuk serahkan semuanya ke Tuhan, artinya itu semua harus dengan ikhlas dan total. Artinya rasa dan praduga sama sekali tak boleh ikut campur dalam proses itu. Dan itu mudah-mudahan baru ikhlas namanya kita berserah pada Tuhan. Dan ketika terjadi sesuatu atas apa yang kita serahkan tersebut itu artinya memang benar-benar murni dariNYA. Aku Cuma bisa katakan Amin, mudah-mudahan diberikan jalan yang terbaik menurutNYA bagi kita semua”.

Kuceritakan pula padanya bahwa apa yang aku sarankan padanya telah terlebih dahulu terjadi padaku. Dengan L aku saat ini sudah tak lagi ada rasa yang berlebihan. Sepenuhnya telah aku serahkan padaNya tanpa aku harus bertanya bagaimana selanjutnya. Selanjutnya biarlah Tuhan juga yang mengatur segala sesuatunya bagi kita. Begitu ku serahkan pada Nya maka tak lagi aku pikirkan tentang apakah L yang terbaik atau ada yang lainnya. Benar-benar telah aku bersandar padaNYA, karena semua dia yang tahu baik atau burk bagiku bagi kita semua. Tuhan tidak akan memberikan kesusahan pada hambaNYa, dan ujian yang di berikan pada kita hanyalah penentuan derajat kita di mata Tuhan. Jangan pernah kita sesali apa yang telah terjadi, syukuri saja apa yang di perlihatkan Tuhan pada kita. Datang dan perginya sesuatu di dalam perjalanan rasa kehidupan kita mudah-mudahan jadi suatu anugrah yang paling indah buat kita.

Aku berduka pada N yang teguh pada prinsipnya tanpa melihat alasan-alasan lain untuk memberikan sentihan lain pada prinsip yang di pegangnya. Aku sama sekali tak ingin di berubah menjadi N yang lain, aku inginkan N terlahir kembali. Kuharapkan dia lebih tangguh saat ini, aku tak ingin melihatnya kembali terjatuh. Tak ingin aku melihatnya tersakiti, yah memang aku pun sayang dia walau dalam bahasa yang lain. Bahasa yang tak mudah terbayangkan oleh orang lain, hanya ada di ruang tertentu dalam perjalan rasa ini.

A Seorang Teman Dari Temanku, Karakter Ketiga

Sebetulnya A teman dari seorang temanku yang gayanya mirip seorang Don tapi biasa ku panggil “Bang Haji” (hehehe, maklum berewoknya itu sama dengan yang asli pada jaman dahulu). Mereka teman baik sejak SMP, kemana-mana selalu berdua sampe pernah di duga kembar. Saat kuliah mereka baru pisah. A kuliah di kota B sedangkan Don tetap kuliah di kota ini, yah sama denganku di fakultas hukum. Ketika sedang libur semester biasanya kami sering ketemu, kadang-kadang A yang mengajakku ke rumah Don, atau Don dan aku kerumah A tapi kadang juga Don dan A bersama-sama teman yang lain datang ke tempatku.

Aku dan A sama-sama berjiwa enterprenuer tapi sama-sama terjebak dalam dunia kerja. Tak suka di perintah oleh sesama manusia, menjadi ganjalan tersendiri bagi ku dan A. Kadang ketika aku libur aku sering cerita dengannya betapa pekerjaan begitu mempersempit aku. Sedangkan untuk cari makan sendiri aku masih telalu takut, aku masih butuh untuk di suap oleh perusahaan tempatku bekerja. Dan ternyata A pun mengalami hal yang sama, kami sama merasakan betapa sakitnya ketika idialisme di gilas oleh aturan tak tertulis bernama persaingan menjilat atasan yang ada di dunia kerja yang kami alami. Banyak hal kami ceritakan dan ternyata kami pun banyak miliki kesamaan tentang hal yang kami ceritakan itu.

Salah satunya termasuk urusan cinta, ternyata dia seorang pengamat sejati (memang pertandingan sepak bola). Aku dan A mencintai seorang gadis hampir dengan cara yang sama, walaupun gadis itu tentunya berbeda (hahahaha….) aku pada L dan dia pada N. Ku pikir aku telah terlalu lama selama satu tahun lebih aku mengamati L. Sampai akhirnya segenap kekuatan terkumpul pada diriku sehingga dapat aku menyuarakan isi hatiku pada L. Itu belum apa-apa bila di bandingkan dengan yang lakukan A, sembilan tahun telah dia amati N. Ketika tahu aku tahu hal tersebut tidak aku tertawakan dia, malah aku semakin penasaran. Siapa N gadis yang di cintai temanku ini, bagaimana bisa ia nantikan selama itu. Dilihatnya N sempat dekat dengan laki-laki lain selain dirinya, namun sampai saat ini rasa itu tidak berkurang sedikitpun. Malah semakin membesar dan menebal, setidaknya demikian yang aku saksikan. Sampai akhirnya aku memtuskan untuk ikut menjadi bagian cerita mereka berdua, tentu tanpa di ketahui oleh A.

Demi Tuhan aku begitu terharu menyaksikan kisah mereka berdua, begitu indah rasa saling suka yang mereka lukiskan dalam cerita mereka berdua. Namun begitu uniknya mereka gambarkan kepada orang lain, menampilkan rasa ketertarikan mereka masing-masing dengan cara yang tak sama. Telah mereka ketahui bahwa mereka saling suka, tapi keduanya bersikap seolah masing-masing dari mereka tidak mengetahui tentang adanya rasa tersebut. A begitu mencinta N, tapi rasa sayangnya pada N tertutup oleh rasa takutnya terhadap keberhasilan N. Dari sisi dunia (materi) N sangat berlebih dengan apa yang telah di capainya selama ini, sedang A tak jauh beda dengan ku. Tak ada materi yang bisa untuk sekedar kami perlihatkan, apalagi untuk di banggakan.

Terus terang akupun mengalami hal yang sama dengan A, menghadapi L aku begitu ketakutan. Aku lebih takut karena secara materi dia dari keluarga berada, sedang aku tak punya apapun. Karier dia lumayan cemerlang bagaimana tidak, perumpuan seusia dia yang telah memiliki izin penuh untuk beracara di persidangan jarang sekali (kalau tidak boleh ku katakan bahwa di kota ini dialah satu-satunya). Kegugupan yang bertahan sampai satu tahun lebih. Sedang A yang sepanjang perjalan kami berteman belum sekalipun dia menceritakan hubungan serius dengan lawan jenis. Hingga wajar saja ketika tiba-tiba dari bahasanya jelas terlihat bahwa dia suka N, teman-teman berbondong untuk ikut membicarakannya. Hal yang membuatnya risih ketika rasa sukanya terhadap N di campuri oleh orang lain. Baginya cukuplah dia dan N yang tahu, dan biarlah dia jalankan sendiri apa yang dia mau.

Siapa sangka A tak punya pacar sampai saat ini, tak satupun yang percaya kalau melihat apa yang dia punya sebagai seorang laki-laki. Badan besar tinggi, wajah ganteng, punya pekerjaan walaupun belum mapan. Tapi bicara masalah materi dia buakan anak orang miskin, tapi hampir tak bernah ia gunakan fasilitas milik orang tuanya untuk kepentingannya pribadi. Bahkan ke kantor saja dia pakai motor yang di belinya sendiri. Dia terpukul dengan apa yang di capai oleh N yang sifatnya serupa dengannya. Ketakutan terbesarnya adalah ketika ada anggapan orang lain bahwa dia akan mendompleng apa yang telah di capai oleh N secara materi, hal yang tak pernah dilakukannya sekalipun pada orang tuanya sendiri apalagi terhadap N. Ketakutan itu hampir menutup rapat keinginan yang sebenarnya begitu besar kepada N. Tapi N telah melakukan pencapaian yang sudah terlalu jauh dari apa yang di capainya saat ini. Begitu pula N takut hadapi kenyataan bahwa A dikelilingi begitu banyak wanita yang mencoba menarik perhatiannya. Berkali-kali ia mencoba menyakinkan dirinya dengan bertanya padaku “benar kak dia suka padaku?”. Dan berkali-kali pula aku yakinkan padanya tentang hal tersebut.

Dari A dan N aku begitu banyak belajar bagaimana aku menghadapi L dan dari cerita ku tentang L, N juga kebagi gambaran bagaimana menghadapi A. Keyakinan yang harus ada pada A, dia harus tahu bahwa N rela menjalani kehidupan sebagaimana yang dikehendaki oleh A. Mencari celah bagaimana membahasakan semuanya pada A, sehingga dengan begitu aku berharap dia bisa yakin bahwa dia bisa kendalikan N. Ketika itu terjadi maka ku yakin bahwa N akan terpukau dengan segala bentuk perhatian yang di berikan A padanya. Yang akan membuat dia semakin yakin bahwa memang A adalah terbaik dari apa yang telah Tuhan anugrahkan padanya.

Aku terharu menyaksikan ketidakberdayaan A dan N untuk menampilkan diri sebagaimana yang mereka inginkan. Terutama N yang hampir sempat menyerah dengan ketidak berdayaan A menghadapi sekian banyak ketakutan yang bergolak dalam dirinya. Entah mengapa ketika menyaksikan kisah A dan N ini aku begitu mudah tersentuh. Sering mataku berkaca-kaca (walaupun tak sampai menangis) ketika ku baca beberapa tulisan N. Energi rasa ini memang berpengaruh luar biasa terhadap N, empat puluh tiga tulisan yang masing-masing sama panjangnya dengan sebuah artikel dia muntahkan dari kepalanya selama tiga hari. Beberapa tulisan terakhirnya begitu jujur dan itulah yang meyentuh aku dalam rasa, memperbesar keinginanku untuk kelihat kedua insan Tuhan ini bersatu. Aku tersentuh akan ketulusannya berkorban demi A, yang sampai saat ini belum memberikan sebuah tanda terang baginya. Mungkin karena N seolah tersadar dari mimpinya, baru beberapa pulan terakhir ini dia tersadar bahwa selama sembilan tahun A telah begitu dalam menyimpan rasa dan begitu kokoh dia mempertahankannya. Akupun sebagai seorang sahabat terenyuh menyaksikan apa yang di alami oleh A.

Pada awalnya yang kutangkap dari ceritera A bahwa N ternyata penah pacaran dengan seorang teman akrabnya sewaktu SMA dulu. Aku nalar itu sebagai suatu ganjalan emosi masa lalu yang terlibat merasuki rasa yang di alaminya sekarang pada N. Namun masa sembilan tahun bukanlah waktu yang sebentar jika hanya itu ganjalannya. Apalagi telah kusampaikan pada A bahwa dia terlalu egois, adakah kau pikirkan sebaliknya demikian ucapku padanya. Bahwa ketika rasa yang bernama cinta telah bicara pada kita, dapatkah kita menghindarinya?. Seperti yang kau alami sekarang terhadap N, mungkin secara kasat mata kau bisa. Tapi aku sangat yakin bahwa rasa yang ada padamu tak pernah bisa kau hindari, dia selalu membanyangimu. Pada tiap detik yang kau lalui dan pada tiap hela nafaasmu. Lantas kenapa ganjalan yang ada padamu menjadi ganjalan bagi jalan kalian berdua. Sungguh kau tak adil pada N, bahkan kau tak adil pada dirimu sendiri. Inipun pernah aku sampaikan pada N dengan bahasa yang lain. “kau harus berdamai dengan dirimu sendiri” ucapku.

Memang akhirnya pada satu titik aku dan A tersadar bahwa, untuk orang seperti kami berdua yang dalam hidup mengambil pilihan membelakangi materi dengan menjadikannya bukan sebagai tujuan utama melaihat orang lain yang kami hadapi belum tentu sama. Ketakutan luar biasa terjadi saat itu, apalagi ketika berhubungan dengan rasa. Hal ini menjadi titik lemah bagi kami, karena yang ada di benak kami adalah “mungkin dia tidak, tapi bagai mana orang di sekitarnya?”. Ketakutan yang membuat mental mengecil menjadi kerdil dan yang terlihat kami menutup diri dari luar. Sibuk menghadapi ketakutan tersebut sampai akhirnya tak berani mengambil keputusan, melakukan atau bahkan memutuskan untuk tidak.

Mimpiku

Pada kasusku, aku kehilangan L untuk waktu yang cukup lama bagiku (kehilangan kontak maksudku). Tapi ketika bertemu meledaklah seluruh kerinduanku, hingga aku tak sadar bahwa aku telah menyampaikan sesuatu pada L. Tapi ternyata hal ini tidak terjadi pada A, setelah beberapa tahun dia bertemu N untuk pertama kalinya. Namun ternyata ketakutannya lebih besar dari pada kerinduannya. Hingga di permukaan tak terjadi apa-apa, tapi di dalam keduanya terjadi letupan-letupan yang memaksanya keluar untuk menyampaikan sesuatu. Mungkin karena itu pula sesuatu terjadi padaku sehingga timbul keinginan yang kuat untuk melihat mereka berdua bisa bersama.

Dan bukan sekedar orbsesi biasa, karena yang terjadi pun di luar dugaanku. Aku mengenal A dari Don dan pada saat itu aku sama sekali belum mengenal N. Walau tak ingat lagi kapan tepat terjadinya, aku masih ingat bahwa itu belum ada satu bulan ini ya bulan Agustus tahun ini juga. Malam itu dalam mimpi aku merasa sedang kumpul bareng teman-temanku, walaupun rasanya ramai sekali malam itu aku merasa terkejut karena ada sesuatu yang luar biasa terjadi. Malam itu A datang membawa seorang cewek berkerudung, sungguh aku terkejut karena selama ini dia belum pernah sekalipun datang bersama seorang perempuan. Malam itu rasanya sama sekali tak ada pemberitahuan bahwa malam itu kita bawa pasangan masing-masing, karena kalaupun iya aku yakin A tak akan datang. Beberapa kali aku dan teman-teman sepakat kumpul bareng dengan pasangan masing-masing dan ak tak pernah datang. Biasanya teman-teman yang lain termasuk aku sendiri akan berusaha mati-matian membawa mahkluk bernama cewe ke pertemuan tersebut. Bila perlu kami bawa sepupu sendiri kalau keadaan terdesak (hahahaha). Tapi tidak bagi A dia lebih memilih untuk tidak datang. Demi melihat itulah aku terkejut setengah mati, karena malam itu dia hadir dengan seorang perempuan. “Ay..ayy…ayy… KLB (kejadian Luar biasa) nih” seorang teman berceloteh dan berderai tawa dari yang lainnya. Lebih aneh lagi bahwa malam itu dia hanya tersenyum kecil, seolah itu hal yang biasa saja baginya. Padahal hari-hari biasanya jika dijodohkan dengan teman-teman cewek yang lain dia sudah akan tersipu-sipu dengan wajah memerah (mirip gadis desa yang akan dijodohkan oleh bapaknya, hahahahaha…). Malam itu dia tampak sungguh percaya diri.

Esok harinya ketika teringat mimpi tersebut aku cuma merasa sedikit merasah aneh saja, setelah itu tak lagi ku hiraukan cerita di mimpi itu. Dua hari berikutnya kembali aku bermimpi, di situ aku melihat gadis yang datang bersama A kepertemuaan kami dalam mimpiku sebelumnya. Tak ada yang dia katakan padaku, dia cuma tersenyum padaku. Dan aku melihatnya dengan suatu keanehan bahwa seolah aku telah kenal dia cukup lama, padahal namanyapun tak aku ketahui. Kembali seperti pagi sebelumnya aku cuma sedikit tertawa dan mimpi itu tinggalah sebuah mimpi. Tapi lagi-lagi malam berikutnya dia (gadis itu) datang dalam mimpiku dan kali ini dia mengatakan sesuatu. Dia berkali-kali menyebut nama A padaku, namun yang aneh ekspresi wajahnya mirip dengan anak kecil yang minta di belikan permen atau balon. Besok paginya aku mulai mereka-reka ada apa dengan tiga mimpiku yang mirip cerita bersambung. Tapi aku belum tahu apa yang harus kulakukan, belum sedikitpun aku memiliki petunjuk apa yang harus kulakukan.

Karena masih bingung aku pun belum bisa melakukan apa-apa, jadi mending aku online dari pada bengong. Karena hari itu masih libur kerja jadi aku tak perlu khawatirkan apapun. Namun ketika aku telah membuka profilku di facebook, aku tergerak untuk melihat profil A. Kemudian munculah ide mencari gadis itu dalam daftar teman di profil A. Satu-persatu ku amati wajah-wajah tersebut dan benar saja, tiba-tiba cursor ku berhenti pada wajah N yah gadis yang ku lihat dalam mimpiku. Spontan saja ku kirimkan permintaan untuk menjadi temanku pada N. Lalu tiba-tiba ku lihat daftar temanku A sedang dalam status online, ku sapa dia melalui fasilitas chatting. Kami ngobrol seperti biasanya, tapi aku sama sekali tidak menceritakan padanya tentang mimpi. Aku sendiri sama sekali belum mengetahui apa maksud mimpi itu.

Beberapa hari kemidian ketika aku kembali online, ku lihat permintaanku untuk menjadi temannya sudah di konfirmasi N. Jalan pertama, pikirku ketika itu dan sekedar berbasa-basi ku ucapkan terimakasih padanya. Tapi tetap belum bisa ku dekati dia karena tak punya suatu alasan, sampai akhirnya di beri komentar pada sebuat tulisanku barulah aku mulai bisa berktukar informasi sedikit demi sedikit dengannya. Suatu kali pernah ku tanyakan N pada A dan reaksinya langsung melindungi, ketika itu aku tahu bahwa A suka pada N. Dan dari komentar beberapa temannya A  pada statusnya saat online terlihat jelas bahwa mereka sedang berusaha menjodohkan A dan N. Awalnya aku pun ikut beberapa kali komentar disana, tapi ternyata hal tersebut membuat A lebih menutup diri pada teman-temannya termasuk padaku.

Let’s Do It

Tapi memang semakin hari kisah A dan N menjadi semakin menarik, bahkan aku sendiri sampai terseret. Perhatianku pada L sedikit terpecahkan oleh kisah ini. Begitu banyak yang sudah terlibat dalam kisah ini karena memang daya tarik keduanya yang terbilang unik untuk sisi masing-masing. Awalnya memang hanya teman-teman A yang di komandoi oleh Don, kemudian teman-teman N ikut pula terlibat di dalamnya. Kini aku pula yang tak begitu dekat dengan A dan pada awalnya sama sekali tak mengenal N bisa ikut terlibat. Dan yang terakhir kakak perempuan A, dia yang paling kami harapkan tingkat keberhasilannya akan lebih baik dari pada kami yang lain (karena rata-rata sudah hampir menyerah).

Aku masih ingat hari itu  (7 September 2009) untuk pertama kalinya aku bertemu dengan N secara langsung dan anehnya aku sama sekali tak merasa asing dengan N, seolah aku telah begitu lama mengenalnya (entah bagaimana dengan N sendiri). Aku, Don dan N buka puasa bareng, sembari Don nunggui istrinya pulang dari kantor. Tujuanku dan Don tak lain adalah meyakinkan N bahwa perasaannya itu tak salah. Begitu pula tentang apa yang kami sama-sama saksikan bagaimana reaksi A terhadap N, kami telah berulang kali mengalami hal tersebut. Jadi kami benar-benar yakin bahwa A mengalami rasa tersebut. Yang di perlukan A adalah suatu pertanda yang mebuat dia benar-benar yakin bahwa N merasakan apa yang dia rasakan. Nah itulah bagian tersulit dari proyek perjodohan ini (hahahaha…..). Berbagai cara telah dicoba dan berulang kali menemui jalan buntu, sedang A sama sekali belum bereaksi apapun.

Setidaknya aku telah mengenal Don selama delapan tahun lebih tapi sungguh baru kali ini aku menemukan kalimat yang sungguh bijak keluar dari mulutnya. Dikatakannya pada N “Bagaimana jika seandainya Tuhan menentukan bahwa kalian seharusnya bersama, tapi karena tak ada yang memulai maka hal tersebut tak pernah terjadi pada kalian berdua”. Aku yakin bukan hanya aku yang terpukau oleh kalimat tersebut. Kondisiku, N dan A sama persis, kami belum sampai pada suatu jalan yang pasti sedangkan Don telah menempuhnya. Demi melihat hal tersebut aku tersadar, pengalaman memang guru yang luar biasa. Betapa tidak, Don yang usianya di bawahku telah melampaui aku tentang masalah ini karena dia memang telah mengalaminya sendiri sedang aku belum lagi sampai di sana. Bahkan mungkin A dan N telah lebih baik dariku, karena apa yang aku titi sekarang masih terlalu jauh dari jalan utama yang sebenarnya hendak kutuju.

Tiba-tiba di tengah pembicaraan kami, N membertitahukan bahwa I (kakak perempuan A) kasih komentar di status fb nya N. Lalu dia ceritakan pada kami bahwa besok  I mengajaknya spa di salon dan tak menunggu lebih lanjut kami langsung menyarankan agar N menerima ajakan tersebut. Kami sangat yakin bahwa pihak keluarga memiliki peluang lebih besar untuk mempersatukan mereka berdua. Apalagi Don tahu betul bahwa A sangat dekat dengan keluarganya, sehinga dia sangat yakin inilah peluang terbaik. Tapi N sangat berat memenuhi permintaan tersebut, dia merasa hal tersebut membuatnya seolah-olah begitu mengharapkan balasan dari A. Susah memang pada awalnya, namun perlahan tapi pasti kami sampaikan padanya setidaknya dia anggap ini sebagai lobi dalam bisnisnya.

Aku dan Don sangat ingin N melakukannya (memenuhi ajakan I) karena setidaknya komunikasi yang kami harapkan bisa terjadi. Karena yang paling sulit adalah meyakinkan A bahwa N memiliki perasaan yang sama dengannya dan mau terima dia apa adanya. Walaupun kami berdua benar-benar sadar bahwa N akan sulit melakukannya karena ini sama sekali jauh dari sifatnya (maafkan kami N, kami belum lagi menemukan jalan dengan peluang yang lebih baik dari pada ini) . Dan nampaknya kami masih harus menunggu lebih lama tentang bagaimana cerita lanjutannya.

Sementara itu ternyata Don telah berhasil melakukan perjodohan lainnya (nampaknya ini salah satu bakat terpedam Don, hehehehe). Dalam perjalanan pulang, Sg (teman aku dan Don kuliah) telpon padaku bahwa dia sedang nge-date dengan W. “ah..ah..ah…” rutukku dalam hati aku belum lagi menemukan kejelasan tentang L.  “Hemff………..” aku menghela nafas panjang.  Tapi ternyata tak berlangsung lama, besok paginya keadaan sudah berbalik setarus delapan puluh derajat.  Cuma gara-gara status FB “Tak ada yang bisa…” begitu tulis A, tapi bagi N ini suatu pertanda dan sama sekali telah memnetahkan apa yang telah kami lakukan selama ini. Aku berduka ketika aku tak lagi bisa melakukan apa-apa. Hanya bisa aku saksikan tentang apa yang terpikirkan oleh N padahal ku tahu betul itu salah.





Aku Pada Mu

4 08 2009

Aku pada mu adalah suatu ktentuan yang tak bisa ku hindari.

Tak pula bisa ku bohongi hati ini yang menyuarakan namamu.

Dan ak tak mampu meredam jiwaku yang meronta,

karena kyakinan nya bahwa sebagian dari nya ada pada mu.

Ku mohon pd MU Tuhan,

beri tahu dia tentang rasa yang ada padaku kepada nya

Tak terhingga ku ucapkan syukur padaMU Tuhan ….

Ketika akhirnya kau perlihatkan bahwa pada nya masih ada jalan bagiku………….

Dan kembali kusandarkan padaMU,

agar KAU Ridhoi jalan itu jd bagian ku…. Amin





Langkah

4 08 2009

Ketika Langkah adalah Pilihan

Ketika Langkah adalah Keputusan

Ketika Langkah adalah Suatu Ketentuan

Ketika Langkah adalah Keharusan

Maka melangkahlah dengan NYA,

Sehingga Langkahmu atas Ridho NYA.





Perbatasan

4 08 2009

Dan nyatalah hanya Tuhan lah yang kuasa menentukan,

ak hanya di beri kesempatan untuk berkuasa

Berjalan melakukan proses sesuai dengan kehendak NYA……

Saat ini yang kusadari adalah aku tak punya kemampuan apa-apa

Akulah yang bersalah….

Dan aku hanya mampu dengan ridho NYA …

DIA lah yang benar

Aku hanya inginkan menjalankan perintah NYA

Menjalankan proses yang di kehendaki NYA

Menyerahkan seutuhnya diriku kepada NYA

Aku hanya bersiap-siap di perbatasan

Dan menanti untuk melaksanakan apapun titah dari pada NYA








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.